Pertandingan sarat prestise di kancah sepakbola liga italia akhir minggu ini menghadirkan dua tim sekota AC Milan versus Internazionale Milan. Dua tim satu darah itu harus berjibaku menjadi yang terbaik di kota mode Milan untuk menarik hati pecinta sepakbola tidak saja di daerah asal mereka tapi lebih luas lagi untuk bolamaniak seantero bumi. Duel dua kutub itu akhirnya dimenangi oleh Internazionale dengan skor 2-1 sekaligus balas dendam atas kekalahan diputaran pertama.
Walaupun bermodal pemain gemerlap, kekalahan AC Milan sudah banyak diprediksi oleh pakar jauh sebelum pertandingannya sendiri digelar. Alasan para pakar tak lain karena lini pertahanan AC Milan dihuni oleh para generasi ‘old crack’ sehingga rentan terhadap serangan balik cepat. Kritik tersebut bukan kali ini muncul, tapi sudah ada sejak tahun lalu.
AC Milan bukannya tak paham akan kelemahannya, tapi mereka juga tidak hanya memikirkan prestasi mengkilap, mereka tetap butuh pemain yang masuk kategori ‘old crack’ tadi karena mereka adalah bagian inti saat jaya.
Disini mungkin AC Milan memegang pepatah habis manis sepah tak dibuang. Saat dunia begitu materialistik dimana semua dinilai dengan hasil akhir , AC Milan menjadi sedikit tim besar dunia yang sangat menghargai pemainnya ( Manchester United adalah salah satu lainnya ). Pemain uzur atau pemain cidera tidak serta merta diputus kontrak ataupun dijual. Walaupun mungkin gaji tidak dibayar penuh bagi pemain cidera tetapi setidaknya pemain itu masih mempunyai klub sehingga masih punya posisi tawar dibursa transfer.
Jika cerita diatas kita tarik ke dunia kita, rata – rata manusia hanya melihat sisi keuntungan dari dalam dirinya sendiri, tanpa melihat dari sudut lain. Tak jarang dari kita saat melihat kontribusi seseorang menurun tanpa dialog dan cari solusi langsung mengambil keputusan yang menyudutkan pelaku. Itu bisa terjadi di dunia mana saja , dunia industri , dunia masyarakat sosial dll.
Walaupun layak dipertahankan bukan berarti profesionalisme kita acak – acak seenaknya . Masing masing partit harus menyadari tujuan utama organisasi. Yang punya otoritas tidak mudah mengatakan bangkrut, tak berkontribusi dan sebagainya sementara bagi sub-ordinat juga harus tahu diri kapasitasnya sehingga tidak mengganggu roda organisasi.
Saat ini kita perlu melihat contoh dari AC Milan dalam menyikapi dunia industri yang lagi tidak menentu akibat krisis global. Bagi pengusaha janganlah krisis dijadikan alasan untuk saving terhadap diri sendiri sehingga menimbulkan kerawanan sosial. Keterbukaan , kejujuran bernilai lebih dari sekedar harta.
Read More..
Senin, 16 Februari 2009
Jumat, 06 Februari 2009
Badai Krisis
Krisis global telah menghantam semua sendi kehidupan manusia. Seluruh negara dengan skala masing – masing merasakan dampak ketidak stabilan model perekonomian saat ini yang banyak dianut oleh warga dunia.
Banyak pakar ekonomi memberi nasehat agar kita bersiap menghadapi krisis dengan berbagai cara . Salah satu contoh kita dinasehati untuk hati hati saat berinvestasi atau lebih baik pegang uang cash saja, dan lain – lain. Itu untuk yang punya uang , jika kita tidak punya uang terus bagaimana …?
Persiapan secara materi memang perlu , karena itu bagian dari ihtiar. Ihtiar memang harus maksimal , namun untuk berhasil atau tidak sama sekali bukan urusan manusia. Hal ini para alim menyebutnya dengan tawakal. Tawakal inilah yang jarang sekali dibahas oleh pakar jika bicara masalah krisis global.
Krisis ini bagi sebagian banyak adalah hambatan , tapi sebenarnya juga menyimpan peluang. Kita sebagai bangsa justru mempunyai momentum untuk bangkit terbebas dari dikte dan kontrol bangsa yang mengaku lebih maju.
Jadi …? Krisis ini sebagi pemicu kita untuk bisa lebih mandiri. Sebagai bangsa yang besar dengan potensi berlimpah tak seharusnya kita terseret arus ekonomi yang tidak stabil. Jumlah penduduk Indonesia besar cukup potensial untuk pangsa pasar sebuah produk, juga modal tenaga kerja yang banyak. Kekayaan alamnya berlimpah ,lautnya luas dengan isinya beraneka sumber kehidupan.
Jika saja potensi diatas diolah dan dikembangkan dengan asas manfaat , tentunya kita tak perlu kawatir soal krisi global. Bayangkan jika saja kekayaan alam diolah untuk pemenuhan rakyat dalam negeri sehingga menghasilkan berbagai barang industri dan dipasarkan untuk rakyat.
Tapi saat ini semua kekayaan alam diolah dengan asas keuntungan ( profit oriented ) sehingga semua usaha harus menghasilkan keuntungan sebesar – besarnya . Bahkan terkadang keuntungannya karena hasil dari penderitaan orang lain. Tak peduli bagaimana perasaan orang lain yang penting kita untung besar.
Momentum 100 tahun kebangkitan nasional seharusnya kita buat bukti konkrit tidak sekedar wacana. Entaskan Indonesia dari krisis dengan mandiri dan pemanfaatan kekayaan alam berasas manfaat sesuai amanat undang – undang.
Read More..
Banyak pakar ekonomi memberi nasehat agar kita bersiap menghadapi krisis dengan berbagai cara . Salah satu contoh kita dinasehati untuk hati hati saat berinvestasi atau lebih baik pegang uang cash saja, dan lain – lain. Itu untuk yang punya uang , jika kita tidak punya uang terus bagaimana …?
Persiapan secara materi memang perlu , karena itu bagian dari ihtiar. Ihtiar memang harus maksimal , namun untuk berhasil atau tidak sama sekali bukan urusan manusia. Hal ini para alim menyebutnya dengan tawakal. Tawakal inilah yang jarang sekali dibahas oleh pakar jika bicara masalah krisis global.
Krisis ini bagi sebagian banyak adalah hambatan , tapi sebenarnya juga menyimpan peluang. Kita sebagai bangsa justru mempunyai momentum untuk bangkit terbebas dari dikte dan kontrol bangsa yang mengaku lebih maju.
Jadi …? Krisis ini sebagi pemicu kita untuk bisa lebih mandiri. Sebagai bangsa yang besar dengan potensi berlimpah tak seharusnya kita terseret arus ekonomi yang tidak stabil. Jumlah penduduk Indonesia besar cukup potensial untuk pangsa pasar sebuah produk, juga modal tenaga kerja yang banyak. Kekayaan alamnya berlimpah ,lautnya luas dengan isinya beraneka sumber kehidupan.
Jika saja potensi diatas diolah dan dikembangkan dengan asas manfaat , tentunya kita tak perlu kawatir soal krisi global. Bayangkan jika saja kekayaan alam diolah untuk pemenuhan rakyat dalam negeri sehingga menghasilkan berbagai barang industri dan dipasarkan untuk rakyat.
Tapi saat ini semua kekayaan alam diolah dengan asas keuntungan ( profit oriented ) sehingga semua usaha harus menghasilkan keuntungan sebesar – besarnya . Bahkan terkadang keuntungannya karena hasil dari penderitaan orang lain. Tak peduli bagaimana perasaan orang lain yang penting kita untung besar.
Momentum 100 tahun kebangkitan nasional seharusnya kita buat bukti konkrit tidak sekedar wacana. Entaskan Indonesia dari krisis dengan mandiri dan pemanfaatan kekayaan alam berasas manfaat sesuai amanat undang – undang.
Read More..
Label:
Indonesiana
Kamis, 01 Januari 2009
2008 - 2009
Hari ini, seluruh dunia sepakat menghitung sebagai awal hitungan tahun baru berdasarkan tarikh masehi. Kembang api banyak mewarnai langit yang gelap hingga nampak terang seakan memberi harapan bahwa waktu yang akan datang secerah kembang api menerangi gelapnya langit.
Setelah hampir setahun dunia dicekam oleh krisis finansial yang menyeluruh , kini wajar kalau penduduk dunia berharap tahun baru membawa pencerahan dan harapan positif. Harapan akan hidup yang lebih manfaat tentunya dengan mendasarkan pada sendi – sendi kehidupan yang lebih kokoh serta tahan dari badai krisis.
Yo-Yo
Para pakar mengatakan bahwa tahun 2008 ibarat permainan Yo-Yo. Ini bukan semata karena mainan ini saat sekarang sedang kembali jadi trend terutama dikalangan anak- anak, namun karena kondisi sosial masyarakat sedang naik turun seperti gerakan dalam Yo-Yo.
Ekonomi dunia bergerak kearah yang sulit ditebak oleh orang awam seperti saya. Sebagai contoh harga minyak dunia yang sempat menyentuh angka diluar psikologis , namun dipenghujung akhir tahun terus bergerak turun. Satu komoditas saja sudah membuat beberapa negara kocar – kacir dalam mengatur APBN. Dampaknya saya sebagai orang awam semakin bingung menghadapi fluktuatif harga sembako di pasaran , karena kecenderungan harga naik tapi hampir sulit untuk turun.
Namun apakah benar bahwa gerakan ekonomi dunia itu murni nature ..? tanpa ada yang mengendalikan ?. Kalau mengambil analogi permainan Yo-Yo seharusnya atau berarti kondisi dunia sekarang pastilah ada yang mengendalikan. Terus siapa pemegang kendali permainan Yo-Yo ini?. Kenapa kita sebagai bangsa yang besar dengan potensi yang melimpah belum juga sebagai pemain Yo-Yo , tapi malah menjadi bagian dari Yo-Yo yang rela terus berputar dan naik turun?
Harapan baru?
Terus bagaimana dengan 2009? . Sebagian pakar pesimis namun ada juga yang optimis. Optimisme mungkin muncul bagi mereka yang mempunyai cara pandang baru terhadap sistem saat ini yang sudah nyata- nyata sangat rentan dari tindakan spekulan.
Saya pribadi hanya sekedar berharap mudah – mudahan tahun 2009 membawa banyak kesejahteraan menyeluruh bagi umat manusia di dunia. Kedamaian , saling menghormati antar bangsa semakin terwujud, serta pencerahan baru terjadi dalam tatanan masyarakat secara integral.
Seperti kembang api diatas , menyala dalam langit gelap , membawa harapan terang. Amin.
Tambahan :
(Gambar kembang api diambil dari teras rumah, saat melihat pesta akhir tahun yang di gelar dilapangan dekat tempat tinggal. Semoga bukan pesta seremonial tanpa manfaat dan hura – hura , namun membawa perenungan pribadi untuk menjadi yang lebih baik dalam hal bersikap, bertindak dan berpikir.)
Read More..
Label:
Indonesiana
Rabu, 17 Desember 2008
Un-Predicted Flying Object
Untuk bisa terbang tak harus punya sayap. Bagi benda yang tak bersayap untuk bisa terbang sangat tergantung dari empunya. Nyali ,otak, rasa putus asa , ingin bikin onar adalah energi potensial yang cukup untuk membuat benda tak bersayap namun bisa terbang. Intinya ada di niat dan di hati empunya.
Seperti kasus sepatu terbang, itu karena nyali si empunya. Bahkan berita terbangnya sepatu ke arah yang sangat tidak pernah diprediksi orang seantero dunia menjadi hit paling populer minggu ini, bahkan bisa bertahan menjadi hit abad ini. Dibutuhkan waktu dan kesempatan lama diwaktu depan untuk bisa memecahkan rekor sepatu terbang tapi nyasar seperti itu. Katakanlah Anda punya nyali tapi kapan ada kesempatan..? apalagi yang nggak punya nyali, jangan coba-coba terbangkan sepatu.
Selain sepatu, botol air mineral , batu , kaca sering kita lihat dilayar kaca beterbangan tanpa arah positif. Kerusuhan supporter , tawuran pelajar adalah energi terbang dari benda karena nafsu onar si empunya.
Akumulasi sebuah kebuntuan berbagai aspek juga turut memicu timbulnya energi untuk menerbangkan benda tak bersayap. Ketimpangan ekonomi, ketidak adilan hukum , sikap apriori terhadap sesama dalam bentuk imperalisme adalah sedikit contoh.
Kita tentu tak ingin UPO terus ada di angkasa, kasihan burung nanti takut terbang.
Untuk itu sebagai penduduk bumi dan penguasa buatlah kemakmuran dibumi, biarkan hanya burung yang terbang agar langit nampak indah
Read More..
Seperti kasus sepatu terbang, itu karena nyali si empunya. Bahkan berita terbangnya sepatu ke arah yang sangat tidak pernah diprediksi orang seantero dunia menjadi hit paling populer minggu ini, bahkan bisa bertahan menjadi hit abad ini. Dibutuhkan waktu dan kesempatan lama diwaktu depan untuk bisa memecahkan rekor sepatu terbang tapi nyasar seperti itu. Katakanlah Anda punya nyali tapi kapan ada kesempatan..? apalagi yang nggak punya nyali, jangan coba-coba terbangkan sepatu.
Selain sepatu, botol air mineral , batu , kaca sering kita lihat dilayar kaca beterbangan tanpa arah positif. Kerusuhan supporter , tawuran pelajar adalah energi terbang dari benda karena nafsu onar si empunya.
Akumulasi sebuah kebuntuan berbagai aspek juga turut memicu timbulnya energi untuk menerbangkan benda tak bersayap. Ketimpangan ekonomi, ketidak adilan hukum , sikap apriori terhadap sesama dalam bentuk imperalisme adalah sedikit contoh.
Kita tentu tak ingin UPO terus ada di angkasa, kasihan burung nanti takut terbang.
Untuk itu sebagai penduduk bumi dan penguasa buatlah kemakmuran dibumi, biarkan hanya burung yang terbang agar langit nampak indah
Read More..
Label:
Humanisme
Kamis, 11 Desember 2008
Bingung
Waduh..kok tiba- tiba tidak ada ide tulisan sama sekali di benak. Sudah coba - coba berpikir tapi kok ya 'cunthel' ( bhs Jawa : artinya pikiran buntu ). Mungkin pengaruh cuaca yang lagi adem karena sering turun hujan , sehingga otak juga pengin rileks setelah dijejali rutinitas harian. Betul - betul nggak punya ide , blong kosong ...
Memang kondisi sekitar sangat mempengaruhi kreativitas otak. Load kerja yang berjubel juga sudah menyita energi yang banyak hingga nge- blog nggak kebagian kapling. Untuk mencegah kevakuman ..ya..nulis sekenanya lah.
Sebenarnya ada beberapa ide yang sudah muncul dari beberapa minggu lalu , tapi kupikir kok nggak 'tematik' gitu loh , jadinya nggak pernah lolos editing.
Padahal banyak sekali peristiwa yang bisa jadi inspirasi tulisan artikel. Seperti 'mismatch' - nya Oscar De La Hoya ( pinjam istilah dari tabloid Bola ) , Fase akhir penyisihan group Liga Champion Eropa ( sebagian besar akau tonton ) dll. Tapi kok ya..tak satupun yang bisa tertuang dalm tulisan.
Nulis kok moody ... ya begitulah kalau jadi penulis amatir ... wis pokok'e cunthel..
Read More..
Memang kondisi sekitar sangat mempengaruhi kreativitas otak. Load kerja yang berjubel juga sudah menyita energi yang banyak hingga nge- blog nggak kebagian kapling. Untuk mencegah kevakuman ..ya..nulis sekenanya lah.
Sebenarnya ada beberapa ide yang sudah muncul dari beberapa minggu lalu , tapi kupikir kok nggak 'tematik' gitu loh , jadinya nggak pernah lolos editing.
Padahal banyak sekali peristiwa yang bisa jadi inspirasi tulisan artikel. Seperti 'mismatch' - nya Oscar De La Hoya ( pinjam istilah dari tabloid Bola ) , Fase akhir penyisihan group Liga Champion Eropa ( sebagian besar akau tonton ) dll. Tapi kok ya..tak satupun yang bisa tertuang dalm tulisan.
Nulis kok moody ... ya begitulah kalau jadi penulis amatir ... wis pokok'e cunthel..
Read More..
Label:
Warna - Warni
Langganan:
Postingan (Atom)