Jumat, 01 Mei 2009

Menjadi Tamu Saat Perjalanan

Minggu lalu saya melakukan perjalanan ke luar kota. Ketika perjalanan berangkat, seperti biasa sebelum pesawat take-off akan ada pengumuman kurang lebih begini “...penumpang yang terhormat , sesuai dengan regulasi penerbangan sipil dst ...”. Saat itu saya tidak merasakan hal aneh melintas ditelinga ketika pengumuman berlangsung.

Justru kalimat yang tidak begitu familiar ( mungkin baru dengar kali ini ) terdengar saat perjalanan balik dengan menggunakan maskapai penerbangan domestik. Kalimat itu kurang lebih begini “…tamu kami yang terhormat , sesuai dengan regulasi penerbangan sipil dst ….”. Hal baru itu ternyata kata penumpang diganti dengan kata tamu. Kata itu tetap dipakai selama penerbangan dari take-off hingga mendarat jika awak pesawat akan menyampaikan pengumuman untuk para penumpangnya ( tamunya ).

Customer Relation
Dalam persaingan usaha yang begitu ketat, di butuhkan seribu taktik untuk berhasil menarik pelanggan. Terlebih bagi suatu usaha yang bergerak dalam bidang jasa , pelayanan adalah kunci sukses bagi langkah berikutnya. Strategi dan taktik itu sendiri dewasa ini tidak melulu soal core bisnis tapi sudah melebar kepada perangkat pendukung seperti customer relation misalnya.

Mengambil contoh di atas, ditengah persaingan tarif kategori low cost carrier, saat selisih harga menunjukkan angka yang tidak significan memang dibutuhkan strategi tambahan. Nampaknya sepele tapi tetap punya efek, simak saja secara harafiah kata penumpang dan kata tamu, anda akan dapat merasakan perbedaannya.

Untuk menjadi pemenang memang kata itu tidaklah cukup menjadi kunci, masih ada rangkaian proses yang harus dilalui dan harus dijalankan dengan kualitas baik. Intinya dalam bisnis apapun end-to-end proses harus menjadi ruh dan menggambarkan out put yang akan di capai.

Read More..

Senin, 27 April 2009

Koalisi

Menjelang 'dead-line' juli , running for president sejumlah tokoh dan yang mengaku tokoh di negeri ini disibukkan oleh kegiatan pendekatan , penjajakan , guna membentuk koaliasi, aliansi , poros dan sejenisnya. Sehingga semua berita politik isinya hanya issue seputaran hal tersebut.

Apakah para tokoh tersebut dalam membentuk koalisi berdasarkan persamaan cita - cita , platform politik , ideologi ? atau mereka hanya menggunakan asas probabilitas ( maksudnya koalisi dengan siapa yang mempunyai prosentasi terbesar untuk menang )?. Dilihat dari peta kekuatan yang ada saat ini anda bisa menilai sendiri, kemana arah koalisi tersebut.

Pada hal menurut komentar pakar bahwa koalisi politik itu tidak ada yang bersifat permanen, semuanya serba mungkin. Jadi kalau koalisi yang dibentuk tidak dilandasi suatu hal yang prinsipiil tentulah koalisi tersebut menjadi rentan terhadap badai politik.

Di samping itu karena poltik itu berlandaskan dukungan, maka beberapa kekuatan yang signifikan sering menggunakan hegemoninya dalam mengatur koalisi sehingga ada kesan pihak - pihak tertentu kurang diakomodir. Ruwet yaa...

Saya pribadi mendambakan suatu pemerintahan yang kuat dan solid, sehingga roda kehidupan bernegara dapat berjalan di atas rel secara mulus. Alangkah indahnya kalau para tokoh berkoalisi karena cita - cita yang sama jauh dari tendensi kekuasaan. Karena tidak selalu harus berkuasa untuk bisa 'berjuang' demi kejayaan negeri ini. Ingat contoh jaman dulu , bagaimana seorang pahlawan sekaliber Sentot Alibasah Prawirodirjo yang terkenal pemberani dan ahli siasat perang memilih bergabung dengan Pangeran Diponegoro dari pada membentuk kelompok perlawanan sendiri?. Ini semata agar barisan P Diponegoro kuat, dan terbukti walau usia perlawanan tersebut relatif pendek tapi pihak kolonial Belanda mampu dibuat kocar - kacir tidak hanya secara phisik di lapangan bahkan secra keuangan Belanda juga remuk.

Berbeda itu wajar, bersatulah demi cita - cita luhur ...dimanapun kita dan apaun serta siapun kita bisa berjuang demi bangsa
Read More..

Kamis, 16 April 2009

Sering Dimarahi Ayah....

Adik , begitu biasa kami panggil kepada si kecil yang saat ini duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar. Menurut pengamatanku sekolah jaman sekarang sangat berbeda dari sekolah jaman dulu , terutama dari materi pelajaran. Di beberapa sekolah untuk ukuran kelas satu sudah tidak dimulai dari belajar membaca dan menulis karena sudah di test saat mau masuk sekolah.

Misalnya untuk pekerjaan ulangan sekolah, kalau dulu isiannya berupa kata atau kalimat pendek, tapi sekarang bisa berupa deskripsi kalimat panjang. Yah..namanya juga kemajuan, toh asupan gizi anak sekarang juga relatif lebih baguslah.

Kakak dan Adik, selalu atau seringkali memberitahukan ke kami semua hasil ulangan di sekolah ataupun nilai PR. Selain untuk berbagi masalah hal ini juga didorong karena setiap hasil ulangan sekolah harus ditandatangani oleh orang tua murid dan dikumpulkan lagi ke wali kelas. Baik nilai bagus atau nilai tidak bagus Kakak dan Adik tidak pernah menyembunyikan hasil ulangannya.

Saat itu, Ayah baru selesai makan malam di panggil Ibu untuk dilihatin lembar ulangan sekolah Adik. Saya pikir wah surprise apa nih Adik sampai segitunya. Angka nilainya sih tidaklah jelek , namun keheranan Ibu ada pada salah satu jawaban yang diberikan Adik dalam menjawab soal isisan tersebut.

Ceritanya saat itu ulangan IPS berupa sepuluh soal isian. Satu dari sepuluh pertanyaannya adalah :
“ Sebutkan contoh hal yang menyedihkan dalam keluarga .......”
Jawaban Adik “ Selalu dimarahi Ayah ....”
Sejenak kami tertawa bersama, dan Adik dengan wajah “no-problemo” hanya nyengir saja dengan ekpresi wajah mengatakan bahwa itu adalah realita.

Well, sebagai orang tua saya menilai itu adalah jawaban jujur dari seorang bocah yang baru berusia tujuh tahun. Saat menjawab dia tidak memikirkan apakah jawaban itu akan dibenarkan oleh guru atau di salahkan sehingga mempengaruhi nilainya. Saya tidak membantah ataupun menjelaskan karena itu adalah salah satu kompetensi untuk berani menyampaikan pendapat.Dan kita harus ‘apreciate’.

Tentulah saya mendapatkan pelajaran ( kalau tidak mau di katakan teguran ) dari anak usia belia. Tak lupa saya ucapkan terima kasih. Cara pandang orang tua memang berbeda dengan cara pandang anak – anak . Di sinilah letak sulitnya menjadi orang tua . Menyampaikan larangan atau teguran kepada anak bisa di artikan bahwa ayah galak, suka marah dan lain sebagainya. Padahal sesuatu itu adalah mungkin bagus untuk si anak, tapi karena cara kita menyampaikan kurang tepat jadi sasarannya malah melenceng.

So, pesan kepada saya pribadi adalah hati – hati saat bicara kepada anak, sedapat mungkin pakai pendekatan psikologi anak. Jadi orang tua bukan berarti bisa se-enaknya , di samping anak adalah amanah ada juga hukum positif negara yang mengatur tentang kekerasan terhadap anak.

Tapi jadi anak juga bukan berarti tak tersentuh aturan main . Yakinlah Nak, tak ada orang tua yang mengharapkan anaknya menjadi orang tidak baik. Walaupun Ayah marah bukan berarti Ayah tidak sayang , tapi Ayah tak ingin melihatmu di jalan yang tidak tepat. Jangan lupa juga do’akan agar Ayah selalu bisa berpikir jernih dan diberi kekuatan oleh Yang Maha Kuasa. Ingatkan kepada Ayah saat marah jangan karena nafsu emosi , tapi demi kebenaran.

Jadi bagaimana , Yah ? lebih baik pakai sepatu bolamu dan kita main bola di lapangan yuk ....setelah itu kita pergi kamping di dekat kolam pemancingan atau dekat lapangan golf.

Read More..

Selasa, 17 Maret 2009

Musim Sepi

Satu lagi musim kita kenal di negeri ini yaitu musim sepi bukan musim semi seperti yang terjadi di belahan bumi lain. Musim sepi ini tak lepas dari beberapa berita hasil tayangan tv saat kick-off kampanye terbuka di mulai untuk para kontestan. Walau tidak semua kampanye perdana partai yang mendapat jatah giliran sepi simpatisan, masih ada beberapa yang cukup banyak dihadiri kader – kadernya.

Walaupun telah menghadirkan orang nomor satunya di partai, seperti yang ditayangkan tv tadi tetap tidak bisa menjadi magnet agar simpatisan datang ke lapangan. Bahkan di satu daerah karena sangat sepi peminat para caleg terpaksa turun panggung dan langsung kampanye door-to-door. Ada lagi di lain tempat acara yang bertajuk atau tepatnya dembel-embeli rapat akbar harus ditutup cepat karena setelah dua jam menunggu simpatisan yang ditunggu tak jua hadir memenuhi lapangan terbuka.

Jika kita kiaskan kampanye tersebut ibarat barang dagangan, tentulah sepi pengunjung bagi sang empunya hajat harus segera intropeksi. Sepi pengunjung saat kampanye bisa diakibatkan oleh beberapa kondisi :
  • Kurangnya publikasi akan produk
  • Banyak produk sejenis di daerah tersebut, sehingga posisi tawar rendah (banyak janji sejenis yang sudah diumbar oleh partai lain)
  • Produk yang ditawarkan tidak sesuai dengan strata masyarakat sekitar yang dijadikan obyek pasar (kampanye salah sasaran, bukan didaerah basis massanya)
  • Mutu dan harga produk yang kurang kompetitif (program kerja yang diusung kurang meyakinkan )
  • Tenaga penjual kurang handal ( juru kampanye tidak jelas track recordnya )
  • Produk yang tidak menyediakan layanan purnal jual ( umbar janji palsu/ OmDo )
  • Lokasi tidak strategis ( tempat kampanye kurang representatif )
  • Produk yang tidak inovatif ( L4 – Lu Lagi Lu Lagi ..cape deh )
  • Produk yang tidak dibutuhkan masyarakat ( wah..ini paling parah..harus cari pasar ekspor nih..)
Saat nanti Anda lihat berita di tv atau lihat langsung kampanye yang sepi pengunjung coba kaitkan kondisi riil dengan alasan diatas kira – kira masuk kategori mana. Kalau semua kriteria tidak ada menurut Anda buatlah kriteria sendiri.

Tapi perlu dicatat, alasan sepi kampanye tersebut tidak ada hubungannya dengan blog yang sepi. ( ha..ha..ha...)

Read More..

Selasa, 10 Maret 2009

Mereka Telah Memberi Bukti, Bukan Janji

Bulan – bulan menjelang pesta demokrasi mungkin paling banyak kita jumpai tebaran pesona janji, baik melalui media tv , poster dan banyak lagi media yang digunakan. Ah....saya sedang tidak akan menulis soal pesta tersebut, tapi saya ingin menulis beberapa pengalaman pribadi yang melukiskan individu – individu yang tidak bergeming untuk memiliki pada sesuatu yang bukan menjadi haknya malah berusaha mencari siapa pemilik hak dari barang atau sesuatu tersebut.

Secara materi mungkin nilainya kecil, tapi niat baik dan ikhlasnya besar dan semoga Yang Maha Kuasa mencatat sebagai amal baik. Untuk menjaga ketulusan hati individu tersebut , maka nama dan tempat ditulis tidak secara detail.

Barang itu masih ada setelah sebulan
Saat itu di suatu departement store di kawasan jalan RS Fatmawati, Jakarta Selatan, saya membeli bor tangan portable. Setelah membayar dikasir kamipun bergegas meninggalkan lokasi belanja tersebut . Setelah malam kami baru sadar ternyata barang tersebut tidak ada, dan tidak yakin apakah tertinggal di mall atau di taksi. Akhirnya kami menganggap barang tersebut telah hilang.

Kami memang belum mencari kembali ke tempat membeli karena saya harus berangkat ke Mataram, sedang ‘permaisuriku’ dan anak – anak pergi ke Jogja.

Kurang lebih sebulan kemudian , saat kami berkunjung ke Jakarta secara iseng ‘permaisuriku’ membawa bukti struk belanja dan menanyakan apakah ada barang tertinggal di sini sebulan lalu. Ternyata ... bor tangan merk Makita tersebut masih duduk manis di rak kasir, dan diserahkan kepada kami dalam bungkusan yang juga masih rapi.

Mbak kasir, terima kasih yaa... dan bagi pengelola mall, semoga mall Anda tambah ramai.

Pak, ini uang Anda !
Kejadian berikut terjadi saat selesai transaksi di ATM di kota kami tinggal. Setelah dari mesin ATM kami jalan – jalan ke pertokoan. Sekitar lima sampai sepuluh menit kemudian ada seorang pemuda berambut gondrong mengejar kami.
“Pak, Bapak habis dari ATM?” sapanya
“ Betul” jawabku sambil selidik apa maksud pertanyaannya
“ Berarti ini uang Bapak” lanjutnya sambil menunjukkan beberapa lembar
“ Bukan, uangku ada kok” jawabku sambil terus melangkah
“Saya menemukan di mesin ATM, coba hitung uang Bapak” nggak mau kalah dia

Setelah dihitung, benar ada kurang jumlahnya dan pemuda itu menyerahkan kepada kami sambil sekali lagi meyakinkan bahwa uang tersebut ditemukan di meja ATM.

Mas...terima kasih, dan ma’afkan kami karena tadinya kami berprasangka tidak baik. Biasalah modus operandi menggunakan ATM kan masih marak. Semoga Alloh S.W.T. membalas amal baik saudara amin ....

Dompet hilang masih nggak sadar
Kejadian ini terjadi beberapa hari lalu. Saat itu saya selesai dari tempat pencucian kendaraan kemudian istirahat tidur siang. Hampir setengah empat sore ada dua orang bertamu sambil membawa KTP dan menanyakan apakah betul itu KTP saya. Ternyata betul, tapi darimana Anda mendapatkan KTP tersebut ? tanyaku.

Dengan lembut dia sampaikan tolong Bapak periksa apakah Bapak kehilangan dompet ? pintanya. Astagfirulloh.... dua buah dompetku ternyata tidak ada di tempat. Kujelaskan isinya dua buah SIM, STNK , kartu ATM,KTP dan sejumlah uang, dan mereka meng-iyakan.

Mereka mengaku menemukan di bawah bangku tempat duduk di pencucian kendaraan. Dengan meminjam sebuah sepeda motor mereka berusaha mencari alamat sesuai KTP. Setelah sempat berputar – putar karena memang belum pernah datang ke daerah tempat tinggal saya akhirnya ketemu juga kediaman sang empunya sesuai alamat KTP.

Tanpa mengurangi rasa hormatku pada mereka, saya berpikir bahwa mereka ( berumur sekitar 19 – 25 tahun ) juga sangat mebutuhkan uang.Tapi dua buah dompet tersebut masih utuh bahkan mereka rela bersusah payah mengembalikan.

Tidak cukup hanya berterima kasih, hatiku deg-degan terus hingga sore hari, pelajaran apa yang mereka berikan kepada saya ? Hingga saya merasa perlu datang lagi di sore harinya ke tempat di mana dompet tersebut ditemukan hanya sekedar bersapa dengan mereka serta memandang wajah mereka yang seakan lebih putih dari hatinya walaupun kesehariannya menghadapi tekanan hidup yang keras.

Saudaraku ...terima kasih, walaupun kita butuh dan kurang ternyata tidak harus menghalalkan segala cara. Semoga rahmat Yang Kuasa selalu tercurah kepada kita ..amin...
Read More..