Jumat, 01 Mei 2009

Menjadi Tamu Saat Perjalanan

Minggu lalu saya melakukan perjalanan ke luar kota. Ketika perjalanan berangkat, seperti biasa sebelum pesawat take-off akan ada pengumuman kurang lebih begini “...penumpang yang terhormat , sesuai dengan regulasi penerbangan sipil dst ...”. Saat itu saya tidak merasakan hal aneh melintas ditelinga ketika pengumuman berlangsung.

Justru kalimat yang tidak begitu familiar ( mungkin baru dengar kali ini ) terdengar saat perjalanan balik dengan menggunakan maskapai penerbangan domestik. Kalimat itu kurang lebih begini “…tamu kami yang terhormat , sesuai dengan regulasi penerbangan sipil dst ….”. Hal baru itu ternyata kata penumpang diganti dengan kata tamu. Kata itu tetap dipakai selama penerbangan dari take-off hingga mendarat jika awak pesawat akan menyampaikan pengumuman untuk para penumpangnya ( tamunya ).

Customer Relation
Dalam persaingan usaha yang begitu ketat, di butuhkan seribu taktik untuk berhasil menarik pelanggan. Terlebih bagi suatu usaha yang bergerak dalam bidang jasa , pelayanan adalah kunci sukses bagi langkah berikutnya. Strategi dan taktik itu sendiri dewasa ini tidak melulu soal core bisnis tapi sudah melebar kepada perangkat pendukung seperti customer relation misalnya.

Mengambil contoh di atas, ditengah persaingan tarif kategori low cost carrier, saat selisih harga menunjukkan angka yang tidak significan memang dibutuhkan strategi tambahan. Nampaknya sepele tapi tetap punya efek, simak saja secara harafiah kata penumpang dan kata tamu, anda akan dapat merasakan perbedaannya.

Untuk menjadi pemenang memang kata itu tidaklah cukup menjadi kunci, masih ada rangkaian proses yang harus dilalui dan harus dijalankan dengan kualitas baik. Intinya dalam bisnis apapun end-to-end proses harus menjadi ruh dan menggambarkan out put yang akan di capai.

9 komentar:

  1. bukan seribu taktik lagi, tiada tara deh taktiknya untuk bisa nyabet customer.pengalaman nih,hehehe

    BalasHapus
  2. penumpang diganti tamu, kelihatannya menjadi lebih sopan

    BalasHapus
  3. Yah mungkin memang maskapai sekarang harus ekstra keras untuk memikat konsumen mas...termasuk memberi citra positif ke pelanggan, mungkin dengan menyebut kata tamu akan lebih nguwongke agar kepuasan konsumen semakin terasa... maklum lah karena makin banyaknya kompetitor dengan pelayanan yang makin bagus.

    BalasHapus
  4. @jengsri : setuju sekali, mmg tiada tara kata yg tepat! karena perang diskon sdh tak mempan lagi karena customer sekarang sdh pinter. Mereka bilang buat apa harga murah tapi tidak memberikan 'real added value' thd bisnisnya. misalnya buat apa harga tiket murah tapi 'telatan' dsb ....mmg perlu terobosan yg benar2 berbeda

    @mas Ciput : saya jg sependapat , lebih halus kesannya

    @Bu Guru : citra positif mmg hars dijaga , maksudnya pelayanan bagus harus dibarengi dgn cara melayani yg bagus ...mgk kira2 seperti itu

    BalasHapus
  5. Hhhmmm...terdengar lebih halus dan sopan.

    BalasHapus
  6. perang diudara...
    persaingan usaha wajar tapi jangn sampe demi ngejar beda tarif dikit sampe "tega" ngajak penumpang jatoh bebas...
    mungkin kl pake kata tamu
    jadi ga tega ngajak tamunya jatuh

    BalasHapus
  7. @mbak Lala : memeang kedengaran lebih manis

    @Tisa: hei ..lama sibuk, baru muncul nih ...
    betul murah saja tidak cukup.

    BalasHapus
  8. Sam
    "tamu" ataupun "pelanggan" dalam hal ini sepertinya sekedar lip service saja....kenapa? karena pada kondisi actualnya pelayanannya sama saja.....ga ada bedanya

    BalasHapus
  9. Ikutan dong,...sepertinya aku sudah familiar dengan isi postingan diatas....eh btw ada yang baru nga, program or smthing

    BalasHapus